Hari senin lalu tepatnya, saya mendengar kabar bahwa iSTTS akan mulai bersaing dengan kampus-kampus lain. Memang dari dulu iSTTS kalah bersaing karena “kesusahannya”. Bayangkan kuliah informatika di iSTTS lebih inferior daripada praktikumnya. Jika tidak lulus praktikum maka tidak lulus juga kuliahnya. Hal inilah yang sering menjadi momok para praktikan(nama mahasiswa di iSTTS yang mengikuti praktikum)-nya. Tentu saja saya adalah salah satu korban tersebut. Dahulu, memang saya tidak merasakan keuntungan dari peraturan tersebut. Tetapi setelah saya mendengar bahwa mulai semester depan, iSTTS tidak akan memberi materi(momok pada praktikum dimana disinilah praktikan di”NILAI” kemampuannya dan jika pada akhirnya tidak mampu maka praktikum beserta kuliahnya pada mata kuliah ini akan hangus/tidak lulus) melainkan hanyalah tutorial belaka.
Informasi tersebut membuat saya kecewa dengan keputusan iSTTS. Memang, saya telah lulus semua praktikum di iSTTS dan sekarang sedang mempersiapkan TA/skripsi. Tetapi bukan karena saya telah lulus semua praktikum tersebut lalu saya merasa ingin melihat angkatan bawah saya menderita. Melainkan, saat ini saya benar-benar merasakan kegunaan dari praktikum tersebut. Sekarang ini, saya telah merasakan keuntungan dari “kerja paksa” tersebut. Selain tugas yang diberikan tidak masuk akal, juga materi yang susah tersebut membuat saya dapat mengerti hampir semua bahasa pemrograman yang diajarkan. Saya seperti “terpaksa” mengerti pada saat mengerjakan tugas praktikum tersebut karena kelewat susah dan banyak yang tidak diajarkan dan harus mencari sendiri referensi dari “om google”. Yah, setidaknya saat ini saya berpikir apalah artinya lulus dari iSTTS kalau tidak ada praktikum yang menyeramkan tersebut. Untunglah saya masih tetap termasuk mahasiswa yang pernah mengalami “Praktikum neraka” tersebut.